Wednesday, August 19, 2015

1:2 AL FATIHAH

Nota 02

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Surah Al-Fatihah (1:2)

    ٱلْحَمْدُ  pujian 
لِلَّهِ  bagi Allah 
رَبِّ  Tuhan/Pemelihara 
ٱلْعَٰلَمِينَ  alam semesta

Tafsir Al-Hamdulillah

Ibnu Jarir menuturkan bahwa makna Alhamdulillah ialah segala syukur hanyalah dipersembahkan kepada Allah semata, bukan kepada apa yang disembah selain-Nya, juga bukan kepada semua mahkluknya, alasannya karena nikmat-Nya yang di berikan kepada semua hamba dan mahluknya tidak dapat dihitung dan unlimitied. Nikmat itu antara lain tersedianya semua sarana untuk taat kepada-Nya, kemampuan semua organ tubuh yang sanggup melaksanakan perintahnya, dan riski yang diberikan kepada semua mahluknya, oleh karena itu segala pujian hanya untuk dan bagi Allah swt dari awal sampai akhir.

Meaning of the word 'ar-Rabb' in the Book and the Sunnah
The root word of the word, 'ar-Rabb' is 'rabba-yarubbu' meaning, 'to nurture something from one form to another up to its final form. It is said, 'he raised him' (rabbahu), they raised him (rabbaahu), etc. Thus, metaphorically the word, 'rabb' is used only for the doer.
'Ar-Rabb' is not said in its absolute sense (i.e., without limitations) except for Allah, the One, Who rectifies the affairs of all creatures. Reflect upon His saying, '(Rabbul-Alameen) the Lord of the Alameen (mankind, jinn and all that exists).' [Soorah al-Fatiha (1): 2] and, '(Rabbukum) Your Lord and (Rabbu-Aabaikum) the Lord of your ancient fathers!' [Soorah ash-Shoorah (26): 26]

The word, 'ar-Rabb' is not said for anyone other than Allah, except with an adjective, for example, 'Rabbud-dar' meaning, master of the house, 'Rabbul-Faras' meaning, owner of the horse, as Allah related about Yusuf (alaihi as-salaam), 'Mention me to your lord (i.e. your king, so as to get me out of the prison).' But Shaytan made him forget to mention it to his Lord.' [Soorah Yusuf (12): 42]

'Return to your lord and ask him.' [Soorah Yusuf (12): 50]

'As for one of you, he (as a servant) will pour out wine for his lord (king or master) to drink.' [Soorah Yusuf (12): 41]

Allah's Messenger (sallallahu alahi wa-sallam) said about the lost camel, 'until its rabb (owner) finds it.' [Agreed upon]

Thus, it has become clear from the above that the word, 'ar-Rabb' (without limitations) is applicable (only) to Allah with or without any adjective. Thus, it can be said, 'ar-Rabb' (the Lord i.e., in the absolute sense), and (in the restricted form) Rabbul-Alameen (the Lord of the mankind, jinn, etc.) or Rabbun-Nas (the Lord of mankind). The word, 'ar-Rabb' cannot be said to anyone other than Allah without an adjective (in order to limit its meaning) like, Rabbud-dar (lord of the house), Rabbul-Bait (owner of the house), and Rabbul-Ibl (owner of the camel). 

And the meaning of, 'Rabbul-Alameen' (Lord of the mankind, jinn, etc.) is their Creator, Owner and the One, Who rectifies and nurtures them by sending His Messengers, and revealing His Books, and rewarding them for their righteous deeds. Al-Allamah Ibnul-Qayyim (rahimahullah) said, 'Verily, Rububiyah includes commanding the slaves and prohibiting them, and rewarding the good doers with good and reprimand (the evil doers) with punishment.' [See, Madarijus-Salikeen (1/8)] This is the reality of Rububiyah.

الحمد

Sebuah ungkapan bg sesuatu yg sgt baik dan sanjungan bagi zat yg terpuji, yg memiliki byk keutamaan, seperti ungkapan pujian dan syukur.
*  al madhu dan asy syukru

Makna dari kata Rabb adalah Murabbi(yang mentarbiyah; pembimbing dan pemelihara). Allahlah Zat yang memelihara seluruh alam dengan berbagai macam bentuk tarbiyah. Allahlah yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah bentuk tarbiyah umum yang meliputi seluruh makhluk, yang baik maupun yang jahat. Adapun tarbiyah yang khusus hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan pengikut-pengikut mereka. Di samping tarbiyah yang umum itu Allah juga memberikan kepada mereka tarbiyah yang khusus yaitu dengan membimbing keimanan mereka dan menyempurnakannya. Selain itu, Allah juga menolong mereka dengan menyingkirkan segala macam penghalang dan rintangan yang akan menjauhkan mereka dari kebaikan dan kebahagiaan mereka yang abadi. Allah memberikan kepada mereka berbagai kemudahan dan menjaga mereka dari hal-hal yang dibenci oleh syariat.


Dari sini kita mengetahui betapa besar kebutuhan alam semesta ini kepada Rabbul ‘alamiin karena hanya Dialah yang menguasai itu semua. Allah satu-satunya pengatur, pemberi hidayah dan Allah lah Yang Maha kaya. Oleh sebab itu semua makhluk yang ada di langit dan di bumi ini meminta kepada-Nya. Mereka semua meminta kepada-Nya, baik dengan ucapan lisannya maupun dengan ekspresi dirinya. Kepada-Nya lah mereka mengadu dan meminta tolong di saat-saat genting yang mereka alami (lihat Taisir Lathiifil Mannaan, hal. 20).



Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Puji ada 4 macam, yaitu :

1. Qodim ala Qodim : pujian Allah kepada Allah sendiri sendiri. Contohnya banyak kita jumpai di Alqu’an, semisal :

(Qs. Al Baqoroh : 30) إنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Aku lebih tau apa yang tidak kalian ketahui”



2.       Qodim ala hadits : pujian Allah kepada mahluknya. Contohnya dalam ayat :

(Qs. Al Qolam : 4) وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيم

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar di atas budi pekerti yang luhur”

3.      Hadits ala Qodim : pujian mahluk kepada Allah. Sebagai umat Islam tentunya harus sering melakukan ini. Semisal ucapan kita “Ya Allah.. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyayang”.

4.      Hadits ala hadits : pujian mahluk kepada mahluk lainnya, seperti ucapan kita kepada kerabat kita “Kamu baik banget” atau semisal “Tambah cantik kamu sekarang” atau mungkin “Indah sekali pelanginya” dan sebagainya.

Dan segala puji di atas hanyalah milik Allah.



No comments:

Post a Comment